PENTINGNYA PENGENALAN SEKSUALITAS SEJAK DINI
A. Latar Belakang Masalah
Pada saat ini Indonesia mengalami perkembangan intensif, dan seiring perkembangan zaman yang begitu pesat, arus globalisasi tidak bisa ditahan. Dampak dari globalisasi itu sendiri menyebabkan Indonesia lebih terbuka untuk menerima teknologi, industri, penanaman modal, maupun ide-ide dan perubahan budaya yang baru. Perkembangan tersebut akan berdampak pada masalah sosial yang terjadi di masyarakat, termasuk sikap penduduk Indonesia terhadap persoalan seks.
Sejak dulu masalah seks adalah hal yang harus ditutup-tutupi, apalagi kepada anak-anak. Anak-anak tidak boleh mengetahui apa itu seks dan yang mereka anggap selama ini seks itu adalah yang bersifat vulgar dan tabu. Seiring perkembangan anak pada masa pubertasi, emosi kejiwaan anak semakin tidak stabil selain itu di masa pubertas biasnya rasa keingintahuan terhadap sesuatu itu sangat besar, apalagi masalah seksual. Berbicara masalah seksual merupakan sesuatu hal yang menarik bagi anak-anak usia remaja. Berdasarkan yang terjadi di lapangan, para remaja mengetahui seks bukan dari orang tuanya tapi kebanyakan berasal dari teman-teman dan dari media-media khususnya internet. Pada akhirnya pemahaman dan penafsiran anak-anak mengenai seks ini tidak terkontrol yang banyak berakibat pada pelanggaran asusila; seperti pelecehan seksual, aborsi, perilaku moral yang menyimpang dan lain sebagainya. Dampak dari pelanggaraan asusila tersebut mengakibatkan meningkatanya jumlah resiko terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti HIV dan AIDS.
Meningkatnya jumlah pasien terinfeksi AIDS dan tindakan Aborsi di Indonesia merupakan salah satu akibat dari banyaknya interaksi seksual yang tidak terkontrol dan kurangnya pengetahuan tentang seksualitas. Remaja yang memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi selalu terdorong rasa ingin mencoba-coba yang melahirkan adanya dunia pergaulan bebas di kalangan masyarakat. Alasan lainnya adalah ekonomi, banyak para remaja yang melakuakan hubungan seksual karena tuntutan kebutuhan hidup. Tetapi pada kenyataannya, banyak para remaja yang melakukan hubungan tersebut dengan teman sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa alasan ekonomi hanya di kambing hitamkan saja. Alasan yang utama adalah adanya hasrat untuk melakukannnya. Banyak para remaja yang terjun di dunia pelacuran karena terlanjur terjebak, sehingga mereka merasa sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa menjadi manusia normal yang sesungguhnya, kehilangaan cita-cita untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Salah satu sebab maraknya kasus anak usia dini yang hamil di luar nikah adalah akibat dari tidak adanya pembelajaran tentang seksualitas sejak dini, sehingga banyak remaja yang melakukan hubungan seksualitas di luar nikah dan hal ini menyebabkan meningkatnya kasus aborsi. Pergaulan seksual yang tidak sehat juga ikut andil dalam meningkatkan korban kasus HIV dan AIDS.
Berdasarkan penjelasan di atas maka perlu adanya pengenalan tentang seks sejak dini terutama terhadap para remaja. Penelitian ini mencoba untuk menggali pemahaman tentang masalah tersebut, bagaimana kita menyikapi dan memahami masalah seksual itu sendiri agar tidak berada di luar koridor dalam norma norma kehidupan kita.
B. Identifikasi Masalah
1. Pesatnya perkembangan zaman membawa bangsa menjadi mudah untuk menerima pengaruh budaya dari luar.
2. Banyaknya pelanggaran asusila yang sebagian besar subyek dan obyeknya adalah para remaja.
3. Maraknya berbagai penyakit akibat penyimpangan seksual seperti: HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya.
4. Masalah ekonomi yang dijadikan faktor utama terjadinya tindakan amoral seperti maraknya PSK yang membaur dalam masyarakat dan mengganggu ketenangan masyarakat.
5. Semakin canggihnya media elektronik khususnya internet, sehingga peluang para remaja untuk mengetahui masalah seksual lebih bebas tanpa ada yang mengontrol
C. Rumusan Masalah
1. Kapan remaja mengetahui seksualitas pertama kali ?
2. Bagaimana remaja mengenal seksualitas pertama kali ?
3. Bagaimana pandangan mereka tentang pendidikan seksualitas ?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Untuk mengetahui sebab-sebab meningkatnya kasus penyimpangan seksual dan dapat di ambil suatu cara yang efektif untuk mencegah meningkatnya kasus penyimpangan seksualitas, terutama mencegah meningkatnya penyakit kelamin seperti HIV dan AIDS akibat dari pergaulan seksualitas yang tidak sehat.
Masa remaja adalah masa yang sangat rentan dengan tindakan penyelewengan sehingga perlu dilakukan pengenalan seksualitas sejak dini agar remaja dapat menjaga dirinya dari lingkungan pergaulan bebas.
Penelitian tentang seksualitas ini sangat perlu dilakukan supaya orang tua memiliki pemahaman yang matang tentang perlunya pendidikan seksualitas sejak dini kepada anaknya, khususnya bagi para remaja.
E. Telaah Pustaka
Dalam buku “seks dan pendidikan untuk keluarga muslim” Ahmad Fanani (2002) mengulas bahwa derasnya informasi lewat tekhnologi modern ke dalam lingkungan masyarakat terutama keluaraga merupakan sebuah tantangan baru untuk memfilter sekaligus mengajarkan sesuatu yang dulu dianggap tabu dalam masyarakat timur, yakni tentang seks. Seberapapun kuatnya orang tua menahan anak-anaknya agar tidak mengenal seks namun lambat laun anak itu akan mengetahui sendiri dengan mencari informasi yang lebih akurat baik dari teman-temannya, maupun media-media khususnya internet. Karena sikap orang tua tersebut tidak relefan lagi dengan kondisi sekarang (globalisasi).
Dalam masyarakat muslim khususnya di zaman nabi Muhammad SAW, seks adalah sesuatu yang bisa dikonsultasikan langsung kepada beliau. Berbeda dengan kondisi sekarang, sering orang tua melarang anak-anaknya mengetahui tentang apapun yang berbau seksualitas. Apalagi pada saat ini telah banyak beredar tayangan-tayangan yang berbau pornografi baik di media cetak maupun di media elektronik. Dalam hal ini orang tua tidak berperan untuk mengajarkan tentang tatacara seksual tetapi lebih menekankan pada aspek pemahaman anak agar dapat mengendalikan emosinya. Walaupun demikian pendidikan seks tersebut harus diajarkan dalam koridor idiologi dan ajaran-ajaran islam sehingga anak ataupun para remaja akan mendapatkan pengetahuan seks yang benar.
Dalam “Paradigma Pendidikan Seksualitas” Alimatul Qibtiyah menjelaskan bahwa seksualitas adalah suatu aspek penting dalam kehiduapn yang menekankan aspek fisik, sosial, budaya dan etnik yang dialami manusia (2003). Seksualitas merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia tidak hanya sebatas pada masalah reproduksi dalam sebagian masyarakat muslim sebagian dari mereka cendrung menolak membicarakan masalah seksualitas, namun dalam kenyataannya mereka tidak bisa menghindari keingintahuan mereka tentang seksualitas khususnya anak-anak dan remaja. Karena bagaimanapun juga seksual itu adalah hal yang alami dalam diri manusia, akibat dibatasi pergerakannya mereka malah memenuhi keingintahuannya tentang seksualitas melalui media internet yang sering kali tanpa sensor. Disinilah pentingnya pendidikan seks sejak dini oleh orang tua. Pendidikan seksualitas adalah sebuah proses transfer ilmu tentang sikap dan pemahaman terhadap seksualitas dan cara-cara pengendaliannya agar tidak melampui batas.
Sedangkan dalam penelitian ini lebih menekankan pada “kapan dan bagaimana” para remaja mulai mengenal seksulitas sehingga dapat kita ambil langkah-langkah untuk menanggulangi kenakalan remaja terutama seks bebas dikalangan remaja.
F. Landasan Teori
Pendidikan seksualitas adalah suatu proses memberikan pelajaran sekaligus pemahaman kepada anak, baik laki-laki maupun perempuan sejak mereka mulai memasuki usia baligh, serta berterus terang kepadanya tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan memahami masalah-masalah kehidupan, mereka telah mengerti akan hal-hal yang halal dan yang haram dan mereka akan senantiasa bertingkah laku islami, serta tidak akan memperturutkan hawa nafsu dan tidak pula menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (Utsman Ath-Thawill; 1997).
Manusia mengalami apa yang dinamakan dengan pubertas, dalam Islam dikenal dengan istilah baligh, yaitu suatu proses transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Usia baligh pada anak perempuan biasanya berkisar antara 8-18 tahun, sedangkan pada anak laki-laki berkisar antara usia 12-20 tahun (Utsman Ath-Thawil; 1997). Perkembangan remaja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dari dalam diri sendiri (endogen) dan faktor yang berasal dari luar dirinya (eksogen). (Hasan Basri; 1994). Faktor eksogen yang paling berpengaruh pada perkembangan anak remaja adalah pengaruh lingkungan sekitar, sedangkan dari faktor endogen yaitu: psikologis, emosi dan hasrat atau kemauan dari anak yang cendrung membeludak ketika memasuki usia pubertas.
Dari segi psikologis anak remaja akan mengalami kondisi yang tidak stabil, sehingga menimbulkan rasa keingintahuan yang lebih besar tentang masalah seksualitas itu sendiri, hal tersbut erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis. Dilihat dari dimensi biologis, seksualitas berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual. Dari dimensi sosial, dilihat pada bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seks.
G. Metode Penelitian
Penelitian tentang seks bukanlah sesuatu hal yang mudah. Apalagi masih banyak orang yang menganggap tabu. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang tepat dan akurat dalam mengeksplorasi data tentang seks. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Wawancara mendalam (indepth interview)
2. Observasi lapangan
Dua metode itu sampai saat ini masih dianggap akurat dan valid dalam mengekplorasi data-data, tidak hanya sekedar memotret di permukaan namun bisa menggali sesuatu apa saja yang ada di balik realita yang tampak, demikian pula tentang seks.
H. Deskripsi Sampel dan Lokasi Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah orang yang baru menginjak usia dewasa. Usia mereka rata-rata 18 tahun, dan pengenalan terhadap seksualitas bermacam macam, ada yang melalui media cetak, media elektronik ataupun dari teman-temannya. Sebagian besar dari mereka mengenal tentang seks pertama kali dari pergaulan dengan teman-temannya, tidak ada diantara mereka yang mengenal seksualitas dari orang tuanya. Tidak ada usaha dari orang tuanya untuk mengenalkan seksualitas sejak dini kepada anaknya, karena perspektif orang tua terhadap seksualitas itu jelek dan tidak layak untuk diajarkan kepada anaknya Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman orang tua mereka terhadap seksualitas pada umumnya masih salah dan perlu mendapatkan arahan
Penelitian ini dilakukan di kampus UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di fakultas saintek.
I. Sistematika Pembahasan
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Batasan Masalah
1.4. Metode Penelitian
1.5. Manfaat Penelitian
Bab II Kajian Pustaka dan Landasan Teori
Bab III Metode Penelitian
Bab IV Deskripsi Sampel dan Lokasi Penelitian
Bab V Pembahasan dan Hasil Penelitian
Bab VI Penutup
6.1. Kesimpulan
6.2. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran
J. Jadwal Penelitian
K. Daftar Pustaka
Ath-Thawill,Utsman.1997. Ajaran Islam tentang Fenomena Seksualita. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Basri, Hasan. 1994. Remaja Berkualitas. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Fanani, Ahmad. 2004. Pendidikan Seks Untuk Keluarga Muslim. Yogyakarta; Orchid.
Qibtiyah, Alimatul. 2006. Paradigma Pendidikan Seksualitas. Yogyakarta; Kurnia Alam Semesta.
Sudarsono. 1989. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta; Rineka Cipta.
http://www.remaja/ Kesrepso.dot info.com
Oleh:
- Khatibul Umam
- Habibie Musthafa
- Widiyani Nurmalasari Lucky
Kamis, 15 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar